3 Kawasan Berdasarkan Etnik di Kota Tanjung Pura pada Masa Kesultanan Langkat dan Masa Sekarang

3 Kawasan Berdasarkan Etnik di Kota Tanjung Pura pada Masa Kesultanan Langkat dan Masa Sekarang

3 Kawasan Berdasarkan Etnik di Kota Tanjung Pura pada Masa Kesultanan Langkat dan Masa Sekarang

Teman-teman mungkin sudah pernah melewati atau mengunjungi kota Tanjung Pura di Langkat. Yup, Kota yang dahulunya berdiri megah kerajaan bercorak Melayu-Islam bernama Kesultanan Langkat dengan ciri khas komoditi tembakau, lada dan hasil alam minyak bumi. Jika diperhatikan kota ini memiliki struktur unik yaitu memiliki kawasan wilayah yang dibuat khusus berdasarkan ras dan etnik yang ada. Yuk simak artikel ini untuk informasi lengkapnya.

  1. Kawasan Melayu

Gambar  Kawasan Melayu Kesultanan

Sumber : Hasil Survey, 2014

Lokasi dari wilayah Tanjung Pura pada masa itu terletak di tengah dengan bangunan utama Istana Darul Aman dan Istana Baru yang hampir berhadapan. Wilayah Istana Darul Aman pada masa ini menjadi MAN 2 Langkat dan Istana Baru menjadi SD 4. Jika dibandingkan dengan sekarang maka sebenarnya kawasan bekas istana keduanya sedikit menjorok ke belakang dan bangunan keduanya berada sebagai pagar depan istana atau sejenisnya. Pada masa dahulu di bagian utama pinggiran kota diisi oleh keluarga besar bangsawan. Di mana bangsawan tersebut diapit oleh dua bagian kawasan lain. Sekarang wilayah ini diisi oleh mayoritas penduduk dan antara bekas dua istana menjadi jalan besar lintas Sumatera.

Untuk etnis Melayu bukan bangsawan terletak di luar wilayah kawasan ini. Mereka menempati wilayah yang sekarang disebut Kampung Lalang dan Pantai Cermin. Kini wilayah tersebut tetap diisi oleh masyarakat Melayu asli dan bertambah dengan kedatangan suku Jawa dan menjadi mayoritas hingga sekarang.

Sedangkan untuk ornamenya berdasarkan catatan dari Tengku Luckman, dari Serdang rata-rata bangunan Melayu bercirikan ;

“Jika kita perhatikan ornamen Melayu yang dilakukan oleh pengukir Melayu masa lampau baik di kayu, metal, batu maupun desain di kain, maka tak pelak lagi akan mewujudkan kekaguman dan rasa menghargai serta mengapresiasi falsafah dan tujuan kreasi mereka itu. Mereka bukan saja menciptakan benda yang rumit dan megah, tetapi dapat mengekspresikan perasaan mereka dalam setiap aspek karya seni itu. Melalui kreativitas itu memahami alam sekitar yang diciptakan Allah S.W.T.”

Istana Kesultanan Melayu umumnya terbuat dari kayu dengan tabir layar yang tinggi, papan tabir layar melengkung, tabir layar yang ditambah dengan papan tipis. Dengan hiasan ukiran halus, direbuk pada dinding luar yang dipasangkan pada pintu, jendela dan lubang angin. Terdapat hiasan papan timbul dengan ayat Al-Qur’an pada pintu dalam menuju ruang tidur. Istana juga memiliki tiang tinggi, susuran dan tangga berukir timbul yang diilhami dari daun, bunga, tumbuhan lokal, binatang. Tidak berbentuk manusia karena hal ini dilarang oleh Islam. Melayu biasanya menempati pesisir pantai Laut Cina Selatan sebagai jalur lintas Barat dan Timur Jauh dari zaman purbakala. Karena hal itu mereka sering menghadapi pasang-surut pantai dan mendirikan rumah bertiang tinggi disertai lubang untuk ventilasi sebagai penyegar udara tropis. Rumah Melayu dibuat dari kayu yang tahan air dan tahan lama. Dan biasanya dibangun bersama-sama. Hiasan yang terdapat dalam ukiran kayu dan logam sudah ada sejak zaman pra-Islam tapi, sejak Islam masuk maka budayanya disesuaikan aturan Islam. (Syaifuddin & Basyarsyah II, 2002)

Dibawah ini terdapat gambar beberapa contoh bangunan lama Melayu yang masih ada dan eksis hingga sekarang. Di mana gambar tiga merupakan bangunan rumah sekretaris Kesultanan yang kini berdiri tepat di sebelah MAN 2 Langkat. Gambar 4 sendiri dahulunya sebagai rumah delegasi dari Kesultanan Serdang yang kini bagian bawahnya diisi oleh salah satu guru dari MAN 2 Langkat dan di bagian kiri dan depan diisi bangunan asrama putri MAN 2 Langkat.

Gambar  Rumah Sekretaris Kesultanan

Gambar Rumah Duta Serdang

Sumber : Internet

 

  1. Kawasan Pecinaan

Gambar  Kawasan Pecinaan

Sumber : Hasil Survey, 2014

Pada masa Kesultanan Langkat diisi oleh etnis Tionghoa yang mengisi peran sebagai pedagang. Mereka membangun ruko-ruko sebagai tempat tinggal sekaligus tempat berjualan mereka. Terdapat pula etnis Tionghoa di luar kawasan yang di mana mereka mengisi wilayah sekarang bernama Kampung Ladang dan berprofesi sebagai tukang sayur dengan julukan ‘Cina Kebun Sayur’.

Area perdagangan dan jasa yang merupakan Pecinaan, melakukan pelestarian/renovasi terhadap permukaan bangunan untuk dapat meningkatkan identitas kawasan dan daya tarik pengunjung dengan kekhasan areanya, berupa deretan ruko Pecinaan peninggalan sejarah pusat kota Tanjung Pura.

Kondisi eksisting pertokoan lama di Kawasan Pecinaan di kota Tanjung Pura saat Ini telah banyak mengalami perubahan secara Visual fasade bangunannya. Perubahan terjadi Pada fasad, struktur maupun jumlah lantai. Dilihat dari kondisi tersebut pelestarian yang dapat dilakukan ada 2 (dua) alternatif, yaitu :

  1. Mengembalikan bentuk fasade bangunan pertokoan yang telah berubah ke bentuk semula
  2. Membiarkan bentuk-bentuk yang telah berubah, namun pertokoan-pertokoan yang belum mengalami perubahan harus dipertahankan dan mengusulkan kepada Pemerintah Daerah agar izin perubahan

Gambar  Kawasan Pecinaan Sekarang

Sumber : Kamera Handphone

 

3. Kawasan Belanda

Gambar  Kawasan Belanda

Sumber : Hasil Survey, 2014

Pada kawasan ini dahulu berdiri bangunan-bangunan dengan karakteristik khas Eropa. Kawasan ini terletak di dekat jalur yang berbatasan dengan titi berkatrol pertama di Sumatera Utara. Di kantor pos sekarang kemungkinan dahulunya adalah kantor militer karena terdapat barak yang berada dibelakangnya. Di mana barak tersebut kemungkinan sebagai tempat penyimpanan atau gudang senjata.

Pada kawasan Belanda terdapat beberapa bangunan bergaya kolonial yang sekarang mengalami kerusakan-kerusakan pada fasade, lingkungan dan struktur bangunannya. Hal ini disebabkan bangunan tersebut tidak dihuni dan tidak jelas siapa pemiliknya. Berdasarkan kondisi tersebut, dapat dilakukan perawatan dan pengikut sertakan masyarakat dalam tindakan pelestarian yang dilakukan. Pada kawasan Belanda terdapat kolam penampung folder yang saat ini tidak terawat dan tidak berfungsi disebabkan oleh telah ditempati oleh permukiman masyarakat. Hal tersebut mengakibatkan terjadi banjir di kawasan Belanda dan kota Tanjung Pura akibat tidak dapat ditampungnya air dari sungai dan hujan. Melihat kondisi tersebut, kolam penampung folder tersebut harus dikembalikan ke kondisi awalnya sehingga dapat berfungsi seperti semestinya. Selain itu, kolam penampung folder ini harus dilakukan tindakan konservasi untuk menata lingkungannya yaitu dengan jalan konservasi tidak langsung (Preservation of Deterioration).

Gambar  Kawasan Belanda Sekarang

Sumber : Kamera Handphone

Kedua gambar diatas adalah foto terbaru bangunan dari Belanda. Foto pertama merupakan bangunan yang sekarang dijadikan kantor pos. Sedangkan gambar kedua merupakan bekas HIS (Hollandsh-Indlandsche School) yang sekarang menjadi bagian bangunan SMP Negeri 1 Tanjung Pura.

Nah, benerkan?

Yuk temen-temen kita jaga dan lestarikan peninggalan budaya yang ada di kota Tanjung Pura dan di kota kita masing-masing. Karena dengan menjaga aset unik budaya berarti kita menjaga harta karun negeri kita tercinta, Republik Indonesia sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman.

Daftar Pustaka

Syaifuddin, W., & Basyarsyah II, T. S. (2002). Kebudayaan Melayu Sumatera Timur. Medan: USU Press Medan.

Share post:

  • /

Leave a Reply

%d bloggers like this: